Ditinggal Penggarap, Proyek Rumah Tidak Layak Huni Probolinggo Dikeluhkan

Seneri menunjuk rumah yang tidak ada atapnya karena ditinggal penggerapnya  (Agus Salam/Jatim TIMES)
Seneri menunjuk rumah yang tidak ada atapnya karena ditinggal penggerapnya (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Proyek Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di RT 5 RW 1, Kelurahan Ketapang, Kecamatan kademangan, Kota Probolinggo, dikeluhkan. 

Proyek khusus masyarakat miskin tersebut, ditinggal begitu saja oleh penggarap. Padahal, atapnya belum selesai. 

Dengan demikian, rumah milik Seneri (50) tersebut tidak bisa ditempati.

Karena itu, Seneri meminta pemkot bertanggungjawab menyelesaikan pembangunan atap rumahnya yang tinggal separuh. 

Jika tidak, rumahnya tidak bisa ditempati, mengingat penghuninya kepanasan dan kehujanan. 

Tak hanya tumpah dari langit, rumahnya juga diguyur air hujan dari rumah tetangganya, lantaran tidak ada talang atau dinding penahan air hujan.

Hal tersebut disampaikan Seneri ke sejumlah wartawan, Rabu (14/11) sekitar pukul 09.00.

Menurutnya, proyek bantuan RTLH yang diterima, justru menambah permasalahan baru, bukan menyelesaikan masalah. 

Mestinya, pemerintah tidak perlu membantu warga miskin jika pada akhirnya menimbulkan permasalahan pagi masyarakat yang menerima bantuan RTLH seperti dirinya.

Seneri mengaku tidak tahu, kalau rumahnya setelah direhabilitasi akan bernasib seperti itu.

Mengingat, tidak ada penjelasan ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan masyarakat) kelurahan Ketapang Basuki, yang mendatangi rumahnya.

“Enggak ngomong apa-apa. Pokonya, rumah saya, akan direhab. Berapa dananya, dan apa saja yang akan direhab, kami tidak tahu. Saya tidak tahu RAB pak,” tandasnya.

Ia kemudian menyebut, yang dibenahi hanya dinding dan atap. 

Itupun dinding yang digarap hanya sisi selatan sepanjang  sekitar 4 meter dan dinding sisi timur kurang lebih 7 meter serta tinding sisi barat yang hanya 3 meter. 

Sedang sisa dinding sisi barat yang panjangnya sekitar 5 meter tidak dibangun. 

“Sampaian lihat sendiri. Dinding sisi barat, numpang ke tembok (Dinding) tetangga,” tandasnya.

Karena dindingnya numpang milik tetangga, penyangga kuda-kuda atap, menggunakan kayu.

Sementara atap rumah, yang digarap hanya setengahnya, sisanya dibiarkan tak beratap. 

Pada hujan pertama minggu kemarin, air hujan tumpah ke dalam rumahnya, sehingga Seneri tidak tidyur semalaman, karena membersihkan air yang menggenangi rumahnya. 

“Terpaksa semalaman, kami bersih-bersih,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Seneri yang juga memiliki kegiatan mengajari ngaji anak tetangganya saat petang tiba tidak jadi menempati rumah yang sudah direhab dengan dana RTLH. 

Ia berencana akan memindah tempat mengaji ke belakang (Rumah yang sudah direhab oleh RTLH).

“Kan tempat ngajinya di ruang tamu. Saya berencana pindah ke belakang. Akhirnya enggak jadi, karena ruang belakang tidak bisa ditempati. Kan tidak ada atapnya,” pungkasnya.

Sementara itu, ketua RT 5 RW 1 Salam, menyesalkan proyek ditinggal sebelum selesai 100 persen. 

Ia tidak yakin, kalau proyek tersebut ditinggal dengan alasan dana sudah habis. 

Mengingat, sebelumnya sudah dihitung dana dan apa saja yang akan diperbaiki dengan dana yang sudah ditentukan tersebut. 

“Yang namanya proyek itu, perencanaannya sudah matang. Termasuk jumlah anggarannya. Masak proyek belum tuntas ditinggal,” tandasnya.

Jika memang pemerintah tidak memiliki dana, sebaiknya tidak usah membantu rumah tidak layak huni. 

Ia memintah pemkot jangan memaksa memberi bantuan RTLH, jika akan meribetkan penerima manfaat atau penerima bantuan.

“Jangan merehab rumah warga, kalau pada akhirnya jadi seperti ini. Kalau pingin bantu, ya bantu 100 persen, jangan nanggung kayak ini,” tandasnya.

Saat ditanya, siapa yang mengerjakan proyek tersebut, Salam mengatakan tidak tahu.

Terhadap proyek RTLH rumah Seneri, ia berterus terang tahu. 

Namun soal jumlah anggran, RAB dan apa saja yang akan direhab, dirinya tidak tahu.

 “Memeng LPM-nya memberitahukan ke saya. Tapi hanya sebatas nama warga penerima manfaat RTLH. Soal yang lain, saya tidak tahu.

“Kalau terjadi seperti ini, pasti ketua RT-nya yang dimintai pertanggungjawaban oleh warga. Ya, nanti kami usahakan sebatas kemampuan kami. Rencana pembangunan teras rumah pak Seneri, kami alihkan ke pembangunan atap rumahnya. Biayanya, kami masih akan minta sumbangan ke warga. Ya, yang repot tetap saya. Makanya, kalau nenggung, jangan ada bantuan RTLH,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top