Jokowi Beri Kado Hari Pers Nasional, Tapi Masih Punya PR Ini

Ilustrasi. (Ist)
Ilustrasi. (Ist)

PROBOLINGGOTIMES, MALANG – Menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Surabaya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan telah menangani pencabutan remisi atas pembunuhan wartawan Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Jokowi mengeluarkan Keputusan Presiden baru mencabut remisi terhadap pelaku yakni I Nyoman Susrama. Bisa disebut, pembatalan itu menjadi kado dari Jokowi untuk HPN. 

Pembatalan remisi Susrama itu disebut bertujuan untuk melindungi rasa keadilan dan keamanan pekerja media. "Sudah saya tanda tangani," kata Jokowi menjawab pertanyaan wartawan perihal remisi tersebut, hari ini (9/2/2019) dikutip dari rilis resmi Kantor Staf Presiden. 

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, pembatalan remisi yang ditandatangani Jokowi menunjukkan kepedulian dan komitmen pemerintah. Terutama dalam melindungi keselamatan pekerja media dalam menjalankan tugas-tugasnya. "Rasa keadilan di tengah-tengah masyarakat menjadi poin perhatian Presiden," tutur Moeldoko.

"Presiden tidak menutup hati terhadap kegelisahan dari para wartawan dan pekerja media. Mereka harus mendapatkan perlindungan saat bertugas. Presiden juga sudah mendengar masukan dari mana-mana. Dan saya kira itu keputusan yang terbaik bagi kita semua," kata Moeldoko. 

Ia menambahkan, kasus ini tidak bisa dilihat sepotong-sepotong. Karena, pengajuan remisi kepada ratusan narapidana dengan kasus yang berbeda-beda. 

Kasus pembunuhan yang menghilangkan nyawa Prabangsa sendiri terjadi pada 11 Februari 2009 silam di kediaman Nyoman Susrama yang berlokasi di Banjar Petak, Bangli. Motifnya adalah kekesalan Nyoman Susrama kepada Prabangsa karena pemberitaan wartawan Radar Bali Jawa Pos Group tersebut.

Setelah mendapatkan putusan pengadilan tetap dan pelaku menjalani hukumannya, dalam perjalanannya kemudian ada proses remisi terhadap yang bersangkutan. 

Pengajuan remisi terhadap Susrama datang bersamaan dengan puluhan narapidana lainnya. Kementerian Hukum dan HAM memberikan tanda merah, kuning, hijau untuk berkas yang perlu mendapatkan atensi lebih dari Presiden. Ketika itu, remisi Susrama tidak diberi label itu, karena pemberian tersebut sifatnya sudah sesuai prosedur. 

Presiden melihat dan mendengar tanggapan, keberatan dan aspirasi publik atas remisi tersebut. Presiden Jokowi juga meminta Menkumha bekerja lebih teliti dan meninjau ulang pemberian remisi untuk Susrama. Mengingat, kasus ini tak hanya berkaitan dengan perlindungan keamanan para pekerja media, tetapi upaya menjaga kemerdekaan pers, sekaligus mencerminkan rasa keadilan di tengah masyarakat.

Sementara itu, tagar #HariPersNasional sempat menjadi trending Twitter di Indonesia selama beberapa jam. Beberapa foto yang diunggah menunjukkan bahwa penyelesaian kasus kekerasan terhadap awak media belum sepenuhnya baik. 

Dewan Pers menyebut masih ada sejumlah kasus pembunuhan jurnalis  di Indonesia yang mendesak untuk dituntaskan. Kasus-kasus tersebut antara lain:

Pembunuhan Udin
Fuad Muhammad Syafruddin atau biasa dipanggil Udin adalah jurnalis Harian Bernas, Yogyakarta. Ia meninggal setelah dianiaya pada 16 Agustus 1996. Sebelum dibunuh, Udin kerap menulis tentang isu korupsi di Bantul. Kasus ini pernah sampai ke pengadilan dan sempat ditetapkan tersangkanya, namun kemudian diketahui bahwa ada rekayasa dalam penuntasan kasus tersebut. Sampai saat ini, pembunuh Udin yang sebenarnya belum terungkap.

Pembunuhan Naimullah
Naimullah adalah jurnalis Harian Sinar Pagi yang berbasis di Kalimantan Barat. Ia dibunuh di mobilnya yang terparkir di Pantai Penimbungan. Sebelumnya, Naimullah diketahui banyak menulis berita tentang hubungan antara polisi dengan jaringan pembalakan liar di Kalimantan. Dari apa yang pernah ditulis Naimullah dan kasus yang menimpanya, muncul dugaan bahwa polisi menjadi dalang dari pembunuhan tersebut. Tidak ada pengusutan yang serius oleh polisi mengenai kasus ini.
 

Pembunuhan Agus Mulyawan
Agus Mulyawan adalah jurnalis Asia Press yang meliput di Timor Timur beberapa waktu setelah referendum tahun 1999 yang menandai lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Tanggal 25 September 1999, Agus meninggal dalam penembakan di pelabuhan Qom, Los Palos, yang juga menewaskan 7 orang lainnya. Ia diduga dibunuh oleh milisi yang dibina oleh militer Indonesia.
 

Pembunuhan Muhammad Jamaluddin
Muhammad Jamaluddin adalah seorang juru kamera TVRI. Ia bekerja di Aceh dan hilang sejak 20 Mei 2003. Jamaluddin ditemukan satu bulan kemudian di sebuah sungai dalam kondisi terikat dan sudah tak bernyawa. Di jasadnya ditemukan banyak luka. Pembunuhan Jamaluddin diduga terkait dengan liputannya mengenai konflik Aceh yang saat itu sedang memuncak dengan diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh oleh presiden Megawati.
 

Pembunuhan Ersa Siregar
Sama seperti Muhammad Jamaluddin, Ersa Siregar yang merupakan jurnalis RCTI ini juga tewas ketika meliput konflik di Aceh. Ia meninggal setelah terjebak dalam tembak menembak antara pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 29 Desember 2003.
 

Ersa tewas dalam baku tembak antara pasukan GAM dan TNI di desa Alue Matang Aron. Ryamizard Ryacudu yang saat itu merupakan Kepala Staf TNI AD mengakui bahwa peluru yang membunuh Ersa Siregar merupakan peluru TNI. Ironisnya, tidak ada langkah hukum atas pembunuhan ini.
 

Pembunuhan Herliyanto
Herliyanto adalah jurnalis Tabloid Delta Pos Sidoarjo. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal pada 29 April 2006 di hutan jati di Probolinggo. Ia diduga dibunuh berkaitan dengan berita-berita yang ia tulis, yaitu kasus korupsi penyelewengan beras yang memenjarakan kepala desa. Polisi sempat menangkap tiga orang yang dijadikan tersangka sebelum pengadilan akhirnya membebaskannya. Tidak ada tersangka baru dalam kasus tersebut.
 

Pembunuhan Ardiansyah Matra’is Wibisono
Matra’is merupakan jurnalis stasiun televisi lokal di Merauke. Ia ditemukan meninggal pada 29 Juli 2010. Sebelumnya, Matra’is meliput tentang persaingan politik para pejabat daerah dalam memperebutkan proyek agrobisnis. Liputan ini yang diduga menjadi penyebab Matra’is dibunuh. Mabes Polri pernah mengeluarkan rilis yang menyebut bahwa Matra’is masih hidup saat diceburkan ke sungai. Akan tetapi tidak ada tindak lanjut dan penyelidikan untuk mencari pelaku pembunuhan.  
 

Pembunuhan Alfred Mirulewan
Alfred adalah jurnalis Tabloid Pelangi di Maluku. Pada 18 Desember 2010, ia ditemukan tewas dan diduga dibunuh karena liputannya mengenai kelangkaan bensin di Pulau Kisar. Dalam penuntasan kasus ini, polisi sudah menetapkan empat orang sebagai tersangka dan divonis bersalah oleh pengadilan. Akan tetapi, seperti dicatat oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), terdapat pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa penetapan tersangka direkayasa dan pelaku sebenarnya belum tertangkap.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top