Artlet Gagal Berangkat karena Tak Miliki Dana

Suasana RDP komisi III dengan Koni dan Disdikpora Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)
Suasana RDP komisi III dengan Koni dan Disdikpora Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Komisi 3 DPRD tidak ingin ada lagi atlet yang gagal dikirim mengikuti kejuaraan di luar daerah, hanya beralasan tak memiliki dana. 

Tak hanya itu, komisi yang diketuai Agus Riyanto ini juga tak ingin prestasi atlit menurun, karana sarana dan prasarana latihan tidak memadai.

Hal itu disampaikan Agus saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia Koni cabang Kota Probolinggo dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (disdokpora) Senin (11/2) siang. 

Komisi siap membantu memperjuangkan dan menambah dana Koni saat banggar (Pembahasan Banggar).

Siswadi ketua Koni yang diberi kesempatan pertama berbicara mengungkap, dana hibah yang diterima dari pemkot tahun ini (2019) sebesar Rp5,5 miliar. 

Jika dibanding tahun sebelumnya (2018) meningkat yang hanya Rp4,5 miliar. Sedang untuk tahun 2017 Rp4,7 miliar. Disebutkan, dana miliaran rupiah itu telah didistribusikan ke 26 cabor.

Sementara, cabor penerima dana tervesar adalah PSSI dalam hal ini Persipro yakni, Rp900 juta. Disusul PBVSI (Voli) Rp280 juta. 

Penerima hibah terendah adalah cabor POBSI Rp40 juta, disusul FOPI Rp50 juta dan dan POSSI Rp60 juta. Sedang Koni sendiri sebesar Rp 1,8 miliar yang dialokasikan untuk kegiatan KONI selama 1 tahun.

Selain itu, dana yang dikelola Koni juga untuk membeli hadiah sejumlah kejuaraan ditingkat cabor. 

Dana itu juga untuk mengapresiasi atlit yang berprestasi dengan pemberian bonus.

Dalam kesempatan itu, Siswadi yang juga direktur PDAM memberitahukan, kalau induk olahraga yang dipimpinnya belum memiliki kantor.

Selama ini, koni menempati salah satu ruangan di GOR Kedopok atau GOR Mastrib dalam melakukan aktivitasnya. 

Meski kurang representative, ia tidak menuntut pemkot untuk segera membangun kantor yang lebih representative yang lokasinya tidak di dalam GOR. 

“Barangkali komisi 3 bisa mengusulkan ke pemkot. Kami ingin punya kantor diluar GOR,” harapnya.

Selain usul tentang kantornya, Siswadi juga menyebut sejumlah fasilitas olahraga yang kurang memadai. 

Namun begitu, sarana dan prasarana serta fasilitas yang ada bisa dimaksimalkan oleh cabor. 

Sehingga dari tahun ke tahun atlit sejumlah cabor berprestasi dikancah lokal, Jatim, Indonesia bahkan sampai ke Asia.

Siswadi juga sempat menceritakan kolam renang di kabupaten Lumajang yang bisa dipakai dalam segala cuaca. Baik dalam kondisi hujan maupun di malam hari. 

Menurutnya, kolam renang di kabupaten tetangga itu, sarana dan prasarananya lebih lengkap daripada kolam renang Olimpik yang berlokasi di dalam GOR Kedopok. 

“Kolam renang olimpik kurang memadai. Kalau di lumajang sudah ada atapnya. Jadi meski hujan, bisa dipakai,” tdndasnya

Tak hanya itu, Siswadi juga menyebut, sarana latihan panjat tebing kurang memadai dan belum berstandart Internasional. 

Padahal atlet panjat tebing binaannya memboyong medali emas dalam Asean Games tahun lalu. 

Pihaknya juga menginginkan gedung untuk arena senam dan atletik serta anggar. 

“Memiliki sarana gedung sendiri. Kami juga butuh gudang untuk menyimpan peralatan olah raga,” pungkasnya.

Sementara itu, Agus Riyanto meminta koni memiliki semangat baru agar atlet masing-masing cabor meningkat. 

Agus berharap, dana yang diteriam Koni dipergunakan seefisien dan seefektif mungkin.

Agar nantinya, ketika atlet butuh dana untuk mengikuti pertandingan ke luar daerah, tidak gagal. 

Jangan sampai untuk membiayai atlet yang bertanding ke luar daerah, pengurus cabor urunan. 

"Ini jangan sampai terjadi lagi. Asa atlet yang enggak jalan karena dana tidak ada,” tandasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Probolinggo TIMES
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top