Bencana Banjir Ancam Jatim, Emil Dardak Minta Daerah Audit Infrastruktur

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat hadir di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat hadir di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

PROBOLINGGOTIMES, MALANG – Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menyoroti rawannya bencana banjir di sejumlah daerah. Suami Arumi Bachsin itu meminta pemerintah daerah melakukan audit atas kualitas infrastruktur yang terkait dengan pencegahan bencana. 

Hal tersebut disampaikan Emil dalam kegiatan Rapat Koordinasi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Bencana, hari ini (13/3/2019) di Hotel Aria Gajayana Malang. Dia menyampaikan, untuk saat ini pencegahan yang paling penting yakni dengan melakukan pemetaan di titik-titik rawan bencana. 

Emil juga menyinggung jembatan yang putus. "Jembatan putus kadang-kadang bukan (karena) kokoh, anyar, bagus, langsung putus. Tapi memang sudah krowak (terkikis) fondasinya," ujarnya. 

Hanya, menurut Emil, masih ada pemerintah daerah (pemda) yang terlalu banyak berpikir untuk memberi jatah anggaran.  "Kadang mau nganggarin sayang anggarannya, mending buat jalan baru. Tapi kalau udah putus, benerinnya bisa 5-10 kali lipat," kata dia. 

Padahal, dengan diaudit secara berkala, maka kondisi kerusakan infrastruktur bisa ditemukan sejak awal. Hal itu dinilai bisa mencegah kerusakan yang fatal.

Emil lantas mengimbau kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar mengaudit kondisi aset-aset vital tersebut. "Mumpung lagi nyusun RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah), secara bottom up aset aset vital itu diaudit kondisinya. Masih prima atau tidak, mana yang rawan, jalan, apalagi jalan Pacitan-Ponorogo, itu sisinya sungai gede," jelasnya.

Dia mengakui, untuk melakukan penguatan itu memang membutuhkan biaya yang tidak murah. Namun, dengan pemetaan, bisa diketahui titik mana yang paling prioritas untuk diperkuat. "Bikin lingkaran jalur air setengah meter gitu untuk berikan jalan air supaya tidak menjadi jenuh di dalam tanah dan permukaan jalan," terangnya. 

Emil menambahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur telah mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah terjadinya bencana banjir di Jawa Timur. Salah satunya dengan membuat sodetan sungai serta penguatan tanggul melalui sand bag atau kantong pasir. "Sekarang sudah ada Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dan itu memang dari Jawa Tengah tapi dia meng-cover semua lintas," ujarnya. 

Dia menerangkan, saat peristiwa banjir yang melanda daerah Ponorogo, Madiun, dan Ngawi beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa langsung melakukan rapat dengan dirjen sumber daya air. Dari rapat itu telah disepakati langkah-langkah preventif yang perlu diakselerasi untuk mencegah terjadinya dampak serupa ke depannya. 

Tetapi, menurut Emil, tentu bukan proses yang bisa selesai dalam waktu sebulan dua bulan. "Tetapi kalau tidak kita mulai sekarang, maka akan semakin lama lagi dan semakin sulit lagi untuk melakukan langkah preventif," kata dia.

Adapun beberapa langkah preventif tersebut antara lain seperti membuat sudetan sungai atau langkah jangka pendeknya seperti penguatan tanggul. "Sand bag atau kantong pasir sudah mulai ditata di tempat-tempat yang rawan," jelasnya.

"Karena begitu sifatnya. Katakan tanggul jebol, kalau didiemin kan lemah kan kiri kanan, makin besar lagi jebolnya. Tapi kalau sudah diperkuat dengan bronjong atau sand bag, itu bisa memperpanjang sistem pertahanan dinding-dinding sungai," pungkasnya.

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top