Harga Tomat di Probolinggo Kembali Meroket

Sueb saat melayani pembeli di tokonya yang menempati TPS (Tempat Penampungan Sementara) Passar Baru (Agus Salam/Jatim TIMES)
Sueb saat melayani pembeli di tokonya yang menempati TPS (Tempat Penampungan Sementara) Passar Baru (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Meski bulan puasa masih kurang satu bulan lagi, harga beberapa komuditas rumah tangga, sudah naik. 

Seperti tomat dan bawang putih, di Pasar Baru Kota Probolinggo, harganya melambung hingga 2 kali lipat, bahkan lebih.

Harga tomat seminggu sebelumnya Rp2 ribu hingga Rp4 ribu, melonjak menjadi Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu.

 

Sedang harga bawang putih yang awalnya Rp 14 ribu hingga Rp16 ribu, kini menjadi Rp 26 ribu bahkan ada yang sampai Rp 28 ribu. 

Naiknya dua kebutuhan rumah tangga, dibenarkan Suep (51) pedagang yang menempati Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Baru, Selasa (25/3) siang. 

Menurutnya, tomat naik seminggu yang lalu dari Rp4 ribu naik keangka Rp8 ribu perkilo. 

Kemudian naik lagi menjadi Rp10 ribu hingga 2 hari lalu ada yang Rp12 sampai Rp13 ribu harga kualitas bagus.

Begitu juga dengan tomat, yang awalnya Rp 16 ribu, naik ke angka Rp20 hingga saat ini berada diangka Rp26 ribu per kilonya. 

Sueb yang tinggal di Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, mengaku tidak tahu, apakah harga kedua komuditas tersebut akan terus bergerak ke atas. 

“Kami enggak tahu. Kalau memang harga kula naik, ya kita naikkan. Ngikuti harga kulak,” tandasnya.

Ia juga tidak tahu, mengapa harga tomat dan bawwang putih neik drastic dalam waktu seminggu. 

Biasanya, menurut Sueb, hargga kulak naik, karena persediaan berkurang. 

Sedang pembeli tetap, bahkan bertambah. Akibat harga naik, penghasilannya berkurang. 

“Kalau harga segitu (Naik) pembeli berkurang. Jumlah yang dibelipun, ikut dikurangi,” tambahnya.

Jika biasanya membeli tomat 1 kilo saat harga rendah (Murah), warga hanya membeli 0,5 (Setengah) Kg, begitu juga dengan bawang putih. 

Dengan demikian, pendapatan Sueb bersama pedagang sayur lainnya, juga berkurang. 

“Pembelinya berkurang. Bahkan jumlah yang dibelipun berkurang. “Mungkin pembeli menyesuaikan dengan uangnya,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Mariam (30) penjual aneka kebutuhan rumah tangga dan sayur yang bersebelahan dengan Sueb. 

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok ini mengatakan, naiknya harga juga berpengaruh peda permintaan akan bawang putih dan tomat. 

“Biasanya per hari 10 Kg bawang putih, setelah harga naik kurang dari 5 Kg yang laku,” tandasnya.

Terpisah, kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro, Perdagangan dan Peridustrian Gatot Wahyudi berterus terang, belum mendengara bawang putih dan tomat naik berlipat-lipat. 

Meski setiap hari ada petugas DKUPP blusukan ke pasar-pasar untuk memantau harga, namun belum ada laporan. 

“Belum tahu. Rekan rekan yang blusukan ke pasar tiap hari belum laporan. Besuk kami cek yak e pasar,” tandasnya.

Saat ditanya langkah yang akan diambil, Gatot akan mencaritahu dulu penyebab kenaikan. 

Apakah memang hasil panen turun, atau ada penimbunan, khusunya bawang putih. 

Tentang operasi pasar, Gatot mengatakan, tidak akan melakukan. 

Mengingat, kedua komuditas tersebut tidak seperti bahan pokok lainnya, seperti beras, minyak dan gula.

“Harga kan ditentukan persediaan. Kalau persediannya sedikit karana gagal panen seperti tomat misalnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau bawang putih, kami akan melapor ke pemprov, jika memang ketersediaannya kurang,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top