Sisa Ganti Rugi Tol Pasuruan-Probolinggo Tak Dibayarkan, Pria Ini Lapor Polda Jatim

Sapu bersama dua saudara kandungnya saat menjelaskan kasusnya ke sejumlah wartawan (Agus Salam/Jatim TIMES)
Sapu bersama dua saudara kandungnya saat menjelaskan kasusnya ke sejumlah wartawan (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Sapu (41) warga Dusun Timur II, RT 19/RW 4, Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, melaporkan Purnomo ke Polda Jatim. 

Pria yang masih saudara sepupu itu dilaporkan, karena diduga menggelapkan uangnya sebanyak Rp 4,6 miliar.

Uang tersebut merupakan sisa uang ganti rugi terdampak tol Pasuruan Probolinggo (Paspro). 

Dikabarkan, tanah seluas 17.716 meter tersebut mendapat ganti untung sebesar Rp13 miliar lebih (Rp13.255.567.905). 

Lantaran hingga 2 tahun (Sejak 2016) uangnya tidak kembali, Sapu bersama ahli waris yang lainnya, melaporkan Purnomo

Hal itu diungkap Sapu beserta ahliwaris yang lain, Minggu (14/4) sore di rumahnya. 

Sapu yang didampingi 2 saudara kandungnya (Ahli waris) melaporkan Purnomo, karena sepupunya itulah yang diserahi mengurus pencairan sawah warisnya. 

Apalagi, Purnomo dikabarkan masih perangkat desa setempat. “Ya, karena masih sepupu. Jadi kami percaya sama Purnomo,” tandasnya.

Namun, setelah ditunggu-tunggu, uang ganti rugi tidak cair-cair. 

Setelah kasus tersebut mencuat dan sempat ramai Purnomo mengaku, kalau uang ganti rugi sudah cair. 

Dan yang menerima adalah Munarti, warga Desa Pohsangit Ngisor, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. 

“Kami heran, mengapa diterima orang lain. Munarti itu tidak tidak ada hubungan keluarga dengan kami,” ujar Sapu.

Karena ramai itulah, akhirnya lanjut Sapu, uang yang menjadi haknya cair. Namun, tidak seluruhnya, ia hanya menerima Rp 9 miliar. 

Namun uang tersebut berkurang Rp 530 juta untuk biaya pengacara. 

Alasannya, uang ganti rugi Rp9 miliar tidak bisa ditransfer ke rekening Sapu, jika tidak menggunakan jasa pengacara. 

“Purnomo bilang seperti itu. Ya kami bayar. Dari uang itu. Jadi uang yang masuk ke rekening saya, Rp8,4 miliar lebih,” katanya.

Uang Rp530 juta itu ditransfer ke Indro, seseorang yang ditunjuk Purnomo sebagai penasehat hokum untuk mencairkan uang ganti rugi yang kadung masuk ke rekening Minarti. 

Sementara Rp4 miliar sisanya, Sapu dan keluarga kandungnya tidak mengetahui. 

“Katanya sih uang itu dibagi-bagi. ENggak tahu dibagi-bagi ke siapa,” tambah Sapu yang diangguki ahli waris yang lain.

Karenanya, Sapu kemudian menggunakan jasa Hasmoko untuk mengungkap kasus tersebut. 

Pengacara asal Mayangan itu, kebagian mengurus penetapan waris dari pengadilan dan saat ini, bukti penetapan waris tersebut, sudah terbut. 

Berbekal itulah, Sapi pada 8 januari 2018 melaporkan kasus tersebut ke Polresta. 

Lama tak ada perkembangan, pada 8 April 2019, Sapu melapor ke Polda Jatim.

Terpisah, Ugas Irwanto Camat Sumberasih mengatakan, Camat, Lurah/Desa dan BPN (Badan Pertanahan Negara) hanya sebagai saksi saat pencairan. 

Jika yang menerima ganti rugi itu orang lain, maka mereka yang harusnya bertanggungjawab. 

“Kalau yang menerima Munarti dan Minarti itu bukan pemilik atau ahliwarisnya, maka dia yang bertanggungjawab. Bu Minarti kan sudah meninggal. Secara hukum tidak bisa dilimpahkan ke Misno, anak Munarti,” ujar Ugas.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP nanang Fendy Dwi Susanto mengatakan, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan untuk didalami. 

“Masih didalami. Kami masih memintai keterangan sejumlah saksi. Kami juga masih mengumpulkan alat bukti,” aku AKP Nanang, singkat.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Heryanto
Publisher :
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top