Pedagang dan Pengusaha Lokal Sayangkan Upaya Memperpendek Radius Radius Toko Swalayan

Pimpinan DPRD Kota Probolinggo menerima berkas laporan pansus, usai dibacakan  (Agus Salam/Jatim TIMES)
Pimpinan DPRD Kota Probolinggo menerima berkas laporan pansus, usai dibacakan (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Terkait usulan pansus yang memperpendek radius antara toko swalayan dan pusat perbelanjaan dengan toko kelontong dan pasar rakyat, disayangkan para pedagang pasar tradisional. Mereka meminta pansus jangan asal mengubah pasal, tetapi ikut memikirkan nasib mereka.

Sebab, jika radius atau jarak diperpendek, akan menambah jumlah toko swalayan dan sejenisnya. Dampaknya, usaha pedagang pasar dan toko kelontong akan mati suri dan penghasilannya makin mengecil. Hal tersebut diungkap Purnomo, mantan ketua Paguyuban Pasar baru Kota Probolinggo, Selasa (23/4) petang.

Ia meminta pansus untuk menambah radius minimal 1.500 meter atau 1,5 Km, jangan dikurangi. Mengingat,  radius 1.00 meter saja, jumlah toko swalayan sudah cukup banyak, apalagi hanya berjarak 500 meter. “Kalau radiunya 500 meter, usaha kami tambah mati. Karena toko modern akan bertambah banyak jumlahnya. Sekarang saja sudah seperti itu, apalagi nanti,” tandasnya.

Belum lagi ada beberapa toko swalayan yang buka sampai 24 jam. Sebagai wakil rakyat, lanjut Purnomo, pansus sebaiknya turun ke lapangan agar mengetahui kondisi pedagang pasar rakyat (Tradisional) dan pemilik toko pracangan. “Enggak pernah turun. Bahkan, dalam penyusunan perda, kami tidak pernah dilibatkan dan tidak pernah diajak ngomong. Perpendekan radius itu, sangat merugikan kami,” tambahnya.

Purnomo berharap, pemerintah dan DPRD tidak tergesa-gesa mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Tentang Penataan dan pembinaan Toko Swalayan, Pusat Perbelanjaan dan Pasar Rakyat. “Sebaiknya bertemu dulu dengan perwakilan pedagang pasar dan pemilik toko pracangan. Biar tahu kondisi kami. Perda itu harus melindungi warga. Jangan memihak pengusaha luar kota,” pungkasnya.

Terpisah, ketua komisi II DPRD H Rano Cahyono membantah, kalau toko swalayan atau sejenisnya merugikan dan mematikan usaha pedagang pasar dan pemilik toko kelontong. Bahkan menurutnya, menguntungkan. Mengingat, toko swalayan memberi ruang menjualkan dagangan atau produk pengusaha kecil. “Siapa bilang merugikan. Sampaian lihat, di depan toko swalayan, ada warga yang berjualan kopi, martabak, terang bulan dll,” tandasnya.

H Rano tidak percaya toko swalayan mematikan usaha warga, karena belum ada satupun warga yang melaporkan ke dewan. Jika warga dirugikan, sebaiknya melapor ke dewan, jangan hanya koar-koar. “Selama ini tidak ada warga yang dirugikan melapor. Tolong tunjukkan dan beritahu, pedagang yang merasa dirugikan. Kalau tidak ada laporan, berarti kan tidak ada yang dirugikan,” ujarnya dengan nada tinggi.

Terkait dengan perpendekan radius, politikus dari Partai Golkar tersebut, meyakini tidak akan merugikan pedagang dan pengusaha kecil. Mengingat, di pasal lain pihaknya masih melindungi pengusaha dan pedagang lokal. Dan lagi, ia sudah meminta, agar secepatnya pemkot membuat perwali yang mengatur toko swalayan. “Perwali itu nantinya yang akan mengatur secara detail. Bukan kemudian radius 500 meter boleh mendirikan toko swalayan. Ada pertimbangan atau ketentuan lain. Ya, diatur di perwali. Makanya, kami minta perwali dipercepat,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top