Pasca Terbakar, Restrukturisasi Klenteng di Probolinggo Butuh Rp 3 Miliar

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo saat menemui pengurus klenteng Tri Dharma Sumber Naga di ruang transit kantor wali kota (Agus Salam/Jatim TIMES)
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo saat menemui pengurus klenteng Tri Dharma Sumber Naga di ruang transit kantor wali kota (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Wali Kota Probolinggo meminta, pihak klenteng tidak mengubah disain dan model klenteng, jika ingin membangun kembali. Sebab, Klenteng yang berlokasi di Jalan WR Supratman tersebut sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Meski dana restrukturisasi atau membangun, menata kembali tersedia, Pemkot tetap meminta pihak klenteng untuk tidak terburu-buru. Rekonstruksi dan restrukturisasi, menunggu hasil kajian dari Pemkot. Hasil kajian itulah yang nantinya dijadikan pedoman, saat merestrukturisasi atau membangun kembali klentang yang hangus terbakar. 

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Hadi Zainal Abidin, saat bertemu pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga. Senin (20/5) siang di ruang transit kantor wali kota. Dalam kesempatan tersebut, wali kota akan membantu biaya pembangunan. Mengingat, klenteng itu sudah ditetapkan cagar budaya. “Kewajiban kami merawat cagar budaya. Bantuan, ya pastilah,” ujar wali Kota Hadi. 

Saat ditanya siapa saja yang akan terlibat atau dilibatkan dalam tim kajian. Hadi mengatakan, belum berfikir kearah sana. Namun, dalam waktu dekat Pemkot akan menunjuk orang-orangnya dan pihak klenteng juga akan dilibatkan. Tugasnya, mengkaji bangunan klenteng, agar restrukturisasinya sesuai bentuk aslinya. 

“Kalau kayunya sulit. Paling tidak, tidak melenceng dari aslinya,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua TITD (Tempat Ibdah Tri Dharma) Adi Sutanto Saputro menjelaskan, butuh biaya sekitar Rp 3 miliar untuk membangun kembali klenteng setelah hangus dilalap sijago merah. Meski mendesak, namun pihaknya akan memperhatikan saran dan permintaan wali kota. Sambil menunggu restrukturasi, pihaknya tetap akan melaksanakan peribadatan. “Tempatnya di timur bangunan tengah yang terbakar,” tandasnya.

Menurutnya, tempat tersebut bisa menampung 500-san jemaaat Konghucu, Budha dan Tao melaksanakan peribadatan. Disebutkan, klenteng yang kini telah berusia 154 tahun tersebut sebagai tempat peribadatan 3 agama yakni, Konghucu, Budha dan Tao. 

“Klenteng kami dipakai untuk peribadatan umat Budha, Khonghucu dan Tao. Kalau tahun baru imlek, acaranya dipusatkan di klenteng. Itu kan tahun barunya, orang China,” tambahnya

Mengenai dana Adi menjelaskan, tidak khawatir. Sebab, sudah banyak dana mengalir ke klenteng dari perorangan ataupun dari kelenteng seluruh Indonesia. Ada yang nyumbang berupa uang, ada pula berbentuk bahan bangunan. Terkait sumbangan Pemkot, Adi mengatakan banyak terima kasih kepada wali kota. 

“Wali kota dan wakil wali kota kami ini sudah tidak kurang-kurang membantu kami. Beliau hadir saat klenteng terbakar sudah lebih dari cukup. Itu semangat bagi kami,” pungkasnya

Pewarta : Agus Salam
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top