Lebaran Usai, Harga Sembako Turun

Salah satu pedagang  di Pasar Baru Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)
Salah satu pedagang di Pasar Baru Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Sudah menjadi kebiasaan atau lazim, jelang lebaran harga barang kebutuhan pokok naik. Begitu pula pasca lebaran, harga barang yang sama sudah bisa ditebak, menurun. Situasi seperti itu hukum ekonomi berlaku. Permintaan naik, harga naik, sedang permintaan turun, harga otomatis akan turun.

Seperi di Pasar Baru Kota Probolinggo, Minggu (16/6) siang sejumlah komoditas rumah tangga, menurun. Bawang putih yang biasanya tembus Rp 45 ribu sebelum lebaran, turun antara Rp31 sampai Rp32 ribu. Cabai kecil yang menjelang lebaran Rp18 ribu, kini turun menjadi Rp14 ribu per kilonya. Cabai besar yang sebelumnya Rp35 ribu, saat ini turun menjadi Rp 30 ribu per kilonya.

Begitu pula dengan tomat, yang mendekati lebaran harga Rp8 ribu per kilonya, kini turun Rp2 ribu per kilo menjadi Rp16 ribu. Harga barang tersebut di atas, tergantung kondisi barangnya. Barang yang masih segar, tentunya lebih mahal dibanding barang yang kondisinya layu alias jelek. Jika yang lainnya turun, namun tidak dengan jahe. Jahe yang sebelumnya Rp14 ribu, naik menjadi Rp18 ribu.

Turunnya harga dibenarkan salah satu pedagang bernama Sueb, 51. Penjual asal Kebonsari Kulon, Kedopok menyebut, naik-turunnya harga, sidah lazim menjelang dan paska lebaran. Disebutkan, rata-rata barang kebutuhan dapur turun, sedang harga yang naik, hanya jahe. ôRata-rata harga turun. Jahe naik, karena sulit didapan dan persediaan berkurang. Dulu Rp14 ribu, sekarang naik Rp18 ribu,ö terang Sueb.

Lain lagi dengan penjual makanan. Mereka diuntungkan dengan turunnya harga kebutuhan pokok atau bimbu dapur. Seperti yang diungkap Sutin (40) warga Jelurahan Posangit Kidul, Kecamatan Kademangan. Pembeli bumbu dapur tersebut mengatakan, turunya harga memberl keuntungan tersendiri. Mengingat, biaya membuat makanan lebih murah, sedang harga jual dagangannya, tetap.

Sebelumnya, saat bumbu dan daging ayam mahal, Sutin pendapatannya berkurang. Mengingat, ia tidak bisa menaikkan harga jual dagangannya, meski biaya produksi, tambah mahal. Sebagai penjual makanan dan minuman, dirinya tidak seenaknya menaikkan harga. ôSaya jual nasi dan makanan. Kalau bumbu mahal, saya tidak menaikkan harga jual. Kalau harga beli bumbu turun, saya lebih untun. Harga nasi saya kan tetap tidak saya turunkan,ö tandasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top