Jumlah Dukun Bayi di Probolinggo Berkurang

Ketua IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Cabang Kota Probolinggo, Utami Putri,(Agus Salam/Jatim TIMES)
Ketua IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Cabang Kota Probolinggo, Utami Putri,(Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Angka Kematian Bayi (AKB)  di kota Probolinggo 2018 sebanyak 44 bayi. Sedang ditahun ini (2019) hanya 28 bayi. Karenanya, Dinas Kesehatan (Dinkes) belum mengetahui, apakah AKB meningkat atau justru menurun. Sebab, data yang masuk ditahun ini hingga Juni.

Sementara itu Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2019 hingga Juni berjumlah 3 orang. Tahun sebelumnya yakni, 2018 sebanyak 4 orang. Hal tersebut diungkap Ketua IBI Kota Probolinggo, Utami Putri, Senin (24/6) siang dikantornya, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Disebutkan, Angka kematian bayi, paling banyak bayi di usia 0 sampai 28 hari atau disebut Angka Kematian Neonatal (AKN).

Penyebabnya, saat lahir berat badan bayi kurang dari 2,5 Kilo gram (2.300 gram), Aspeksia atau kesulitan bernafas yang ditandai tidak nangis saat dilahirkan. Penyebab lain, inveksi dan bayi yang memiliki kelainan. Sementara kematian ibu disebabkan karena beberapa hal diantaranya, kehamilan abdominal, Penyakit TBC, Eklamsi keracunan kehamilan dan pendarahan.

Selain itu juga dikarenakan ibu hamil kurang mengetahui tentang proses kehamilan, mulai saat hamil muda hingga melahirkan. Dan jarang memeriksakan kehamilannya ke dokter atau bidan serta Puskesmas terdekat. Menurutnya, bidan juga berperan menurunkan angka kematian ibu dan bayi. “Selain itu peran masyarakat didukung stakeholder,” tandas Utami.

Sedang Bayi meninggal menurutnya, karena beberapa faktor, selain aspek kesulitan bernafas dan infeksi, juga bayi yang terlahir dengan bobot kurang dari 2.500 gram. Faktor itulah penyebab utama meninggalnya bayi. 

“Makanya, perempuan dibawah usia 20 tahun, dan diatas 45 tahun dianjurkan tidak hamil. Ya, demi kesehatan bayi dan ibunya,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Utami menyebut, jumlah di wilayahnya sebanyak 277 bidan. Namun yang aktif berperan sebagai bidan sekitar 250 orang. Mereka tersebar di berbagai tempat seperti PNS, Tenaga honorer, bekerja di rumah sakit atau klinik swasta. Termasuk menjadi tenaga kesehatan mandiri seperti, bidan praktik. 

“20 bidan belum punya kesempatan bekerja,” tambahnya.

Sedang jumlah dukun bayi saat ini tinggal 36, padahal tahun-tahun sebelumnya mencapai 100 orang. Turuannya jumlah dukun bayi, karena meninggal, sedang penggantinya tidak ada. Masyarakat tidak tertarik berprofesi dukun bayi, karena perannya oleh pemerintah dibatasi. Menurutnya, dukun bayi tidak boleh menangani ibu melahirkan. Mereka hanya bertugas memandikan dan memijat bayi. “Ya, karena perannya dibatasi, sehingga masyarakat enggan menjadi dukun bayi,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top