Ifa Pembalap Cilik Perempuan asal Lumajang Pantang Lepas Jilbab

Ifana Hani Atira , pembalap cilik sesaat sebelum bertanding (Agus Salam/Jatim TIMES)
Ifana Hani Atira , pembalap cilik sesaat sebelum bertanding (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – PROBOLINGGO-Dari 23 pembalap cilik yang ikut ajang Kejurprov (Kejuaraan Provinsi) balap motor Jawa Timur, Wali Kota Cup, Minggu (21/7) satu pesertanya adalah perempuan. Ia adalah Ifana Hani Atira (10) warga Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.

Gadis yang duduk di kelas 5 sekolah Dasar (SD) tersebut, salah satu pembalap dari 4 pembalap yang bernaung di kelompok balap motor DS Lumajang. Ifa, begitu biasa dipanggil, ditemani kedua orang tuanya Ratna dan Budi yang usianya sama-sama 47 tahun berikut kakak laki-lakinya.

Anak kedua dari dua bersaudara tersebut ikut diajang Motor Mini Gp. Ifa mengaku, hampir 2 tahun menggeluti dunia balapan dan sudah mengikuti perlombaan beberapa kali, termasuk di Kota Probolinggo. Meski terbilang masih baru, namun ia pernah juara nomor 3 di Kabupaten Situbondo .

Sebelum terjun ke dunia trek-trekan di sirkuit resmi, Ifa sering ikut orang tuanya yang menangani mesin kendaraan yang akan diadu. Awalnya, suami Ratna adalah seorang pembalap yang meninggalkan arena sirkuit beberapa tahun setelah menikah. “Ayah saya dulu pembalap. Sekarang buka bengkel. Yang nangani motor saya dan teman-teman, bapak saya,” tandasnya.

Dari balapan dan sirkuit yang pernah diikuti, Ifa berterus terang, tidak pernah jatuh atau kecelakaan. Jika di lain waktu terjadi seperti itu, dirinya tidak akan kapok dan terus akan meniti karir yang jarang diikuti perempuan tersebut. “Enggak, saya gak kapok meski jatuh atau kecelakaan. Suatu saat nanti saya harus naik peringkat. Tidak lagi balapan di mini GP,” katanya.

Meski bertarung di adu kecepatan motor, Ifa tidak pernah melepas jilbabnya. Ia akan menunjukkan ke teman-temannya, kalau pembalap itu tidak hanya bisa urakan. Tetapi bisa juga bersikap seperti kebanyakan perempuan lain. “Kami sekolah dan ngaji di rumah. Justru di balap ini, kami diajari kedisiplinan dan cara mengambil keputusan,” pungkasnya.

Sementara Ratna, ibu Ifa tidak melarang, putrinya ikut road race. Karena permintaan sendiri Ifa dan sudah menjadi hobinya Ifa. Ratna sendiri heran, mengapa kesukaan suaminya nurun ke putrinya, padahal yang diharapkan adalah anak pertamanya yang seorang lelaki. "Enggak tahu juga kenapa yang putri. Kakaknya justru suka musik. Dia sekarang menggeluti musik,” ujar Ratna singkat.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top