Sopir Angkot Ancam Kandangkan kendaraannya di kantor Wali KotaProbolinggo

Saman, sopir angkot saat berada di halte Banda, Mayangan, Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)
Saman, sopir angkot saat berada di halte Banda, Mayangan, Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)

PROBOLINGGOTIMES – Sopir angkota (Angkutan Kota) Probolinggo ancam akan menyerahkan kendaraannya ke wali kota, jika operasional gojek dan taksi online tidak diatur alias tetap semerawut. Mereka mengancam akan mengandangkan atau memarkir angkotnya di depan kantor wali kota, jika dalam seminggu tuntutannya tidak dipenuhi.

Ancaman tersebut disampaikan Saman (51), salah satu sopir angkot bersama sejumlah sopir lainnya, Selasa (23/7) siang. Pria yang tinggal di Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo itu, Rabu besuk akan berkirim surat ke wali kota. Jika dalam seminggu atau Rabu minggu depan tidak ada tanggapan, maka ia bersama dengan angkot yang lain akan berkumpul di depan kantor wali kota.

Tujuannya, akan menyerahkan kendaraannya ke wali kota, sebagai benttuk kekecewaan. Kendaraannya akan diparkir atau dikandangkan di depan pemkot, hingga permasalahan dengan gojek dan taksi online, selesai. “Kami meminta pertanggungjawaban pak wali. Angkot ini ada, karena wali kota. dan kalau ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan, ya kami kembalikan ke wali kota,” tandasnya saat menunggu penumpang dihalte Banda, Mayangan.

Saman dan sopir angkot yang lain akan berhenti dari sopir angkot. Ia akan menjual kendaraannya ke wali kota dengan harga minimal Rp78 juta. Uan hasil menjual angkotnya akan dipakai untuk usaha lain yang masih belum diketahui. “Berhenrnti dari sopoir angkota. Mau cari usaha lain. Belum tahu apa. Ini tidak bisa diteruskan. Saya parkir di halte ini sejak pukul 07.00. Baru dapat satu penumpang pukul 10.30. Ya meski satu penumpang terpaksa harus jalan,” ujarnya.

Ditambahkan, ancaman itu dilontarkan, sebagai buntut peristiwa yang terjadi pada Senin (22/7) kemarin. SAMAN BERSAMA Dafi temannya berseteru dengan sopir taksi online, akibat rebutan penumpang. Hanya saja, dalam kejadian di jalan Panjaitan, barat RSUD dr Mohamad Saleh itu, sebatas adu mulut, tidak sampai ada tindak kekerasan.

Saman menjelaskan, adu mulut tersebut berawal saat Dafi (50) rekannya mengetahui taksi online menjemput penumpang di barat RSUD.  Defi yang sudah lama ngetem atau nyanggol menunggu penumpang, tak dapat menahan kejengkelannya. Ia kemudian menegur sopir taksi onlin tersebut. “Kebetulan saya lewat sana. Melihat teman bersitegang dengan sopir taksi online, saya berhenti. Malah sopir online itu tengkar sama saya,” tandasnya.

Meski ketua taksi online sempat datang dan dimarah-marahi, namun Saman tetap mengizinkan  mempersilahkan taksi online membawa penumpang yang dipersoalkan. Mengingat, penumpang tersebut akan pulang setelah anaknya sembuh dari operasi. Dijelaskan, siang itu, taksi online menjemput penumpang di barat RSUD. Sementara Dafi sopir angkot sudah lama menunggu penumpang di lokasi yang sama. “Ya pasti marah. Kan di sana dilarang taksi online ambil penumpang.,” kata Saman.

Iapun menjelaskan, tidak ada yang melarang mengambil penumpang di RSUD, tapi di belakang RSUD yakni di jalan Kartinia. Mengingat, di depan RSUD, yakni, Jalan Panjaitan jalur angkot, apalagi taksi online berplat dasar hitam. “Silahkan ambil penumpang, tapi ganti plat Kuning dan urus izin trayeknya. Kami ini memiliki ixin trayek dan tiap 6 bulan sekali, membayar Uji KIR. Taksi online enak-enakan tidak bayar apa-apa> Ini kan tidak adil namanya,” tambahnya.

.Terpisah, Kabid Lalin pada Dishub Purwantoro Novianto, saat ditemui dikantornya mengatakan, akan mempertemukan sopir angkot dengan taksi onlin yang difasilitasi Forum Lalu lintas. Hanya saja, jadwal belum diketahui pastinya. Soal tindakan taksi online, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, jkarena menilang kendaraan yang melanggar kewenangan Sat Lantas Polresta.

Dan lagi, kendaraan berplat hitam edan sepeda motor , dibolehkan mengangkut penumpang sesuai Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 Tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor. Akibat aturan tersebut Perwali menuruntya, tidak bisa dijalankan alias sudah tidak berlaku. “Ya, memang aturannya seperti itu. Tapi kami usahakan mereka harus bertemu. Biar mereka nanti membuat kesepakatan sendiri,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]probolinggotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]probolinggotimes.com | marketing[at]probolinggotimes.com
Top