Petugas menurunkan APK Caleg yang menghalangi pandangan pengendara di perempatan jalan KH Mansur (Agus Salam/JatimTIMES)

Petugas menurunkan APK Caleg yang menghalangi pandangan pengendara di perempatan jalan KH Mansur (Agus Salam/JatimTIMES)



Lagi, Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kota Probolinggo menertibkan APK (Alat Peraga Kampanye). Namun, penertiban yang dilakukan pada Rabu (26/12) pukul 09.00 tersebut, terkesan tebang pilih. Tidak seluruh APK diturunkan, hanya beberapa banner, spanduk atau baliho yang diturunkan, sedang yang lain dibiarkan.

Ketua Bawaslu Azam Fikri membantah, kalau pihaknya disebut pilih kasih atau tebang pilih menurunkan APK. Hanya saja, penertiban yang dilakukan serentak di 5 kecamatan tersebut menertibkan APK yang ditempatkan di fasilitas umum, diikat dan dipaku pada pohon atau diikat pada cagak telpon atau tiang listrik maupun PJU (Penerangan Jalan Umum) serta yang mengahalangi taman dan rumah warga.

APK yang tidak diturunkan, adalah APK jenis banner, baliho dan spanduk yang tidak melanggar aturan seperti tersebut di atas. Plus APK yang dipasang menggunakan frame dan kaki yang terbuat dari kayu, bambu atau semacamnya dan berdiri sendiri. Tanpa menumpang ke APK caleg yang lain, atau ditempelkan di pohon, tiang listrik, telepon dan diikat. “Meski APK sudah sesuai aturan, tapi masih ditempel, diikat ke pohon, tiang dan menghalangi taman, fasilitas dan rumah warga, akan kami turunkan,” jelas Azam.

Selain itu lanjut Azam, pihaknya akan mencopot APK yang dilaporkan warga dengan beberapa alasan. Diantaranya, menghalangi pandangan pengendara atau membahayakan pengguna jalan. Seperti APK di perempatan Jalan dr Muhammad Saleh dan Jalan KH Mansur. Bawaslu terpaksa mencopot salah satu banner caleg, karena dilaporkan mengganggu pengendara oleh Yusuf, warga sekitar saat penertiban APK berlangsung. 

Menurut Yusuf, baliho yang dipasang di tikungan sisi timur bagian selatan, menghalangi pandangan. Pengendara dari arah timur yang hendak ke selatan (kiri) atau dari arah selatan kearah timur (kanan) terhalang oleh banner. Karenanya, ia meminta diturunkan alias dicopot. dan saat itu juga permintaan Yusuf dikabulkan ketua bawaslu. Petugas kemudian membongkar banner yang dimaksud. "Ya, kami kabulkan permintaan warga. Karena pandangan pengendara terhalang. Bahaya bagi pengendara yang hendak belok ke kiri atau ke selatan," kata Azam.

Sementara di lokasi itu juga sisi barat bagian utara, petugas hanya mencopot satu bakiho caleg, sedang yang lainnya tidak disentuh. Alasannya, meski banner tersebut berdiri sendiri dan menggunakan kaki, namun diikat dan dipaku ke pohon, sementara yang lain tidak. Kemudian petugas yang didampingi Satpol PP meneruskan penertiban ke tempat lain. “Kami kebagian Kecamatan Mayangan. Petugas dibagi lima kelompok. Masing-masing kelompok bertugas di tiap kecamatan. Kota kan kecamatannya, hanya lima,” tambahnya.

Disebutkan, pihaknya menurunkan APK caleg, karena tidak diturunkan oleh parpol dan calegnya. Sebelum ditertibkan, pihaknya sudah berkirim surat ke seluruh perpol peserta pemilu, untuk menurunkan banner calegnya. Namun, surat yang dikirim bawaslu tidak diindahkan, sehingga tidak ada APK yang diturunkan sendiri oleh partai atau calegnya.

 “Ya, akhirnya kami sendiri yang menurunkan. Kami turunkan dalam keadaan utuh. Kalau caleg kepingin mengambil, silahkan datang ke kantor,” pungkas Azam.

 

 


End of content

No more pages to load