Kapolres Jombang, AKBP Fadli Widiyanto saat diwawancarai sesuai melakukan mediasi bersama keluarga 4 tersangka pengedar pil koplo. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Kapolres Jombang, AKBP Fadli Widiyanto saat diwawancarai sesuai melakukan mediasi bersama keluarga 4 tersangka pengedar pil koplo. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)


Pewarta

Adi Rosul

Editor

A Yahya


 Kasus peredaran obat keras berbahaya (Okerbaya) jenis dobel L atau pil koplo yang melibatkan pelajar di Jombang, ternyata polisi mengamankan 9 orang. Lima diantaranya terpaksa dibebaskan karena tidak memenuhi unsur pidana pada kasus tersebut.

Dari 9 orang yang diamankan hanya ada 4 orang yang ditetapkan tersangka dan dilakukan penahanan. Tiga di antaranya berstatus pelajar, satu seorang kuli bangunan. Dan lima terpaksa dibebaskan karena tidak terbukti mengedarkan pil koplo.

Empat orang yang ditetapkan tersangka yakni, RAM (18) alias Jupek, pelajar asal Kecamatan Jogoroto, MAI (16), pelajar asal Kecamatan Sumobito, dan AW (18) alias Gombes, pelajar asal Kecamatan Jogoroto. Dan satu pengedar lainnya yang turut diamankan yakni Firmansyah (23), kuli bangunan asal Desa/Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.

Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto menerangkan, dari 9 yang diamankan oleh Polsek Jogoroto, pada 17-18 Juni kemarin, 5 diantaranya dibebaskan karena tidak memenuhi unsur pidana yang diatur dalam pasal 196 Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tentang kesehatan.

"Masyarakat belum terlalu faham bahwa untuk undang-undang kesehatan ini, maka pengguna itu tidak bisa dihukum, dan yang bisa dihukum adalah yang mengedarkan," terang Fadli saat wawancarai di Mapolres Jombang, Rabu (19/6) malam.

Pemahaman yang disampaikan Kapolres terkait 5 orang yang dibebaskan ini, juga disampaikan oleh para keluarga dari 4 tersangka dan kepala desa terkait, saat dikumpulkan di Graha Bhakti Bhayangkara (GBB) Polres Jombang, Rabu (19/6) malam.

Di kesempatan itu, lanjut Kapolres, pihak dari keempat tersangka meminta untuk ditangguhkan. Namun, permintaan itu tidak bisa dikabulkan oleh pihak kepolisian.

"Mereka minta tersangka ditangguhkan, dan kita juga sudah memberi penjelasan. Terkait masalah narkoba ini, kita tidak dapat mengabulkannya," ujarnya.

Kendati begitu, Kapolres menyarankan kepada keluarga tersangka di bawah umur untuk meminta kepada kuasa hukumnya agar para tersangka dilakukan upaya rehabilitasi. "Kita nanti bersama-sama, dan juga pihak keluarga agar memohon melalui kuasa hukum untuk yang di bawah umur dilakukan rehabilitasi," tutur Fadli.

Karena mengingat ada pelaku pengedar okerbaya yang berstatus pelajar, Kapolres menarik kasus ini ke Polres Jombang. "Ada 3 orang tersangka yang masih di bawah umur, dan ini menjadi atensi dan kasusnya langaung kita tarik ke polres jombang," ucapnya.

Sementara, dijelaskan Kapolres, pada kasus ini sempat beredar ada tindakan suap untuk upaya pembebasan tersangka. Hal ini dikarenakan masyarakat beranggapan bahwa dengan member uang suap pada petugas maka tersangka bisa dikeluarkan. "Ya jadi, beredar bahwa jika kemudian disuap tersangka bisa keluar. Itu juga kita sudah beri penjelasan, bahwa ternyata dari masyarakat sendiri mempunyai ide, bahwa itu kalau di kasi duit bisa keluar," terangnya.

Biarpun begitu, Kapolres tetap memerintahkan anggota Propam Polres Jombang untuk memeriksa persoalan dugaan suap itu. Namun, Kapolres juga menegaskan bahwa untuk masalah suap itu, harus dilihat lebih dulu, dari pihak siapakah ide suap itu muncul.

"Kalau itu ide nya dari pihak Kepolisian, maka Polisinya yang salah masyarakatnya yang tidak tau. Tapi kalau ide itu dari masyarakat maka perlu diedukasi masyarakatnya bahwa itu adalah tindakan suap yang kemudian itu bisa dipidana," kata Fadli.

Terpisah, Amir Mahfud (50) salah satu pihak keluarga dari tersangka AW alias Gombes (18), membenarkan bahwa pihaknya berinisiatif memberikan uang pada Polisi agar anaknya dapat dibebaskan dari kasus yang menjeratnya. "Saya sendiri yang menawarkan uangnya. Tiga juta tapi ndak diterima dan dikembalikan pada saya uangnya," pungkasnya.


End of content

No more pages to load