Aris Alfian dan calon istrinya Anak Agung Ayu Widya Srikandi  / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Aris Alfian dan calon istrinya Anak Agung Ayu Widya Srikandi / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES


Editor

A Yahya


Setahun lebih  Aris Alfian (28) mengajukan pernikahan ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung, namun tak kunjung selesai. Selain istrinya seorang mualaf, Aris mengaku jika kendala yang dihadapi karena adanya upaya pungutan liar (pungli) dari oknum yang biasa mengurus pernikahan. "Istri saya ini orang Bali, awalnya beda agama dan sudah menjadi mualaf," kata Aris

Pada awal bulan April 2018 Aris mengurus pernikahan di KUA Kecamatan Karangrejo atau tepatnya di desa Karangrejo. Aris sudah mendapat surat dari desa tempat tinggal yaitu desa Tambak Kecamatan Ngadi Kabupaten Kediri. "Pada pengurusan berkas di desa saya untuk minta surat numpang nikah di Karangrejo, sama modin saya dimintai uang rp 150 ribu, dan saya menolak. Tapi akhirnya surat tetap diserahkan ke saya. Waktu itu modin itu juga bilang bahwa pungli itu sudah budaya," cerita Aris.

Setelah mendapat surat numpang nikah, Aris mengurus surat di Desa / Kecamatan Karangrejo untuk pemberkasan dan dirinya meminta akad nikah dilaksanakan di KUA saat jam kerja. "Tapi pegawai KUA bilang bahwa nikah jam kerja harus bayar Rp 600 Ribu kalau mau gratis hanya untuk orang miskin dan harus dikasih nametag dan difoto-foto. Saya menolaknya karena Undang-Undang (menikah di KUA saat jam kerja) itu gratis," papar Aris.

Oknum KUA yang tidak disebut namanya oleh Aris itu tetap ngeyel, hingga akhirnya Aris memutuskan mengajukan kasus tersebut ke kementerian agama (Kemenag) Kabupaten Tulungagung. "Setelah saya lapor ke bagian kemasyarakatan di Kemenag, di sana saya mendapat jawaban dan mengiyakan bahwa nikah memang gratis jika di KUA dan jika KUA Karangrejo tetap mempermasalahkan suruh menelepon beliau," terang Aris.

Mendapat jawaban yang baik, Aris kembali ke KUA Karangrejo untuk menyampaikan informasi yang didapatkan itu. "Akhirnya pegawai itu mengakui bahwa memang diperintah bosnya, saya tidak bertanya lebih lanjut siapa bosnya itu," tambah Aris.

Meski tinggal selangkah lagi dirinya menikah sah dengan calon istrinya yang bernama Anak Agung Ayu Widya Srikandi (23) warga asli Bali, rupanya kendala masih saja dihadapinya. "Selanjutnya pihak KUA Karangrejo mempermasalahkan perwalian istri saya, padahal orang tua istri saya yang beragama hindu setuju menikahkan tapi tidak mau mengeluarkan surat berupa apapun. Dia mau menjawab melalui telepon jika pihak KUA mau bertanya langsung," jelasnya.

Pernikahan di tahun 2018 akhirnya batal, kemudian pada awal bulan juli 2019 saat mengajukan ulang persyaratan ditolak oleh KUA Karangrejo dengan alasan harus memperbarui dokumen N 1,2 dan sebagainya yang dahulu pernah diajukan pada tahun sebelumnya.

"Anehnya, sebelum itu kita tanyakan ulang ke KUA, apakah nikah di KUA gratis dan permasalahan yang lalu itu ada masalah, mereka menjawab tidak ada masalah dan katanya dulu kita yang ditunggu kok tidak jadi nikah dan kalau mau nikah biar diurus pak modin," papar Aris.

Lalu Aris memperbarui persyaratan nikah dan menyerahkan kembali ke Modin desa Karangrejo, setelah diserahkan modin tersebut bilang kalau nikah di KUA, walaupun jam kerja harus bayar Rp 600 ribu. "Sampai pada akhirnya saya ancam pak modinnya, siapa pak yang bilang harus bayar sebutkan namanya biar saya laporkan ke polisi. tapi pak modin tidak mau menyebutkan namanya dan beliau bilang baik nanti kita musyawarah lagi," lanjutnya.

Setelah pemberkasan selesai di desa, Aris kembali membawa berkas ke KUA, namun kembali pihak KUA mempermasalahkan lagi masalah perwalian calon istri saya. Dan saya kasih nomor telepon orang tua istrinya. "Pihak KUA saya minta lagi langsung telepon sendiri dan orang tua calon istri saya menjawab boleh untuk menikahkan putrinya," terang Aris.

Karena tidak mau membayar uang pungli itu, Aris yang sebenarnya telah menikah siri dengan istrinya itu menjadi kena fitnah yang luar biasa dari warga tempat dia numpang alamat. "Warga tempat numpang KK istri saya ramai membahas dan menyalahkan kami, kita dianggap memalukan karena hanya bikin masalah, gara gara bayar untuk nikah aja kita tidak mau," tutur Aris.

Padahal menurut Aris, dirinya melakukan hal itu semata ingin membongkar praktek pungli yang sebenarnya masih terjadi di tengah masyarakat. Selain itu, penundaan nikah yang dilakukan juga karena perempuan yang telah dinikahi siri itu masih sibuk dengan KKN tempat kuliahnya.

Atas peristiwa itu, kasi Binmas Kemenag Tulungagung Supriyono saat dikonfirmasi mengaku masih belum menerima adanya kejadian yang dimaksud. Namun dirinya berjanji akan mengonfirmasi ke pihak KUA Karangrejo atas kebenaran informasi yang baru diterima dari awak media. "Saya belum mendapat informasi itu, coba saya cek dulu bagaimana sebenarnya peristiwa itu bisa terjadi, saya minta waktu," jawab Supriyono saat dikonfirmasi, Selasa (06/08) siang.

Meski demikian, Supriyono menegaskan jika nikah di KUA pada jam kerja seharusnya gratis tanpa dikenakan biaya apapun. "Jika di jam kerja memang gratis," pungkasnya.


End of content

No more pages to load