Yoyok Mubarok menunjukan ikan patin di kolamnya yang seharusnya sudah terjual (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Yoyok Mubarok menunjukan ikan patin di kolamnya yang seharusnya sudah terjual (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Ribuan ton ikan hasil petani ikan Tulungagung terancam tak bisa dijual. 

Pasalnya, sejumlah kota yang menjadi pasar ikan dari Tulungagung mengalami kelesuan peminat.

Diperkirakan ada 3 ribu hingga 3500 petani ikan terdampak dengan adanya Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, Tatang Suhartono pada awak media beberapa waktu lalu.

“Ikan gurame itu sudah stag (terhenti),” ujar Tatang.

Kondisi ini lantaran pangsa pasar untuk ikan gurame seperti di Jakarta, Surabaya dan luar pulau sudah tutup semua.

Untuk panen di bulan April, hampir seribu ton ikan tertahan di kolam. 

Untuk mengurangi kerugian akibat pembengkakan pakan, petani ikan mengakali dengan memberi kangkung atau rumput.

Kondisi terparah dialami oleh petani ikan patin. 

Untuk panen bulan April, ada sekitar 1.200 ton ikan yang terancam tak bisa dijual.

Tatang menjelaskan dengan kondisi ini petani ikan patin kerepotan. 

Jika dibiarkan tidak diberi pakan, ikan akan memakan kotorannya sendiri sehingga daging ikan menjadi kuning dan bau.

Jika tetap diberi pakan, maka ikan akan tumbuh besar dan melewati ukuran jual dan tidak laku dijual.

Agar ikan patin bisa terserap, pihaknya mengusulkan agar ikan patin nantinya dimasukan dalam salah satu komoditi bantuan yang diberikan pada warga.

“Kita mengoptimalkan bantuan-bantuan sosial yang ada ini, kita berharap bisa memasukan patin,” tuturnya.

Agar bisa dimasukan dalam komoditas bantuan, ikan patin diproses dulu dengan menggunakan mesin pembeku agar tahan lama.

Sementara itu Yoyok Mubarok, salah satu peternak ikan patin di Desa Bendiljati Wetan Kecamatan Sumbergempol melakukan sejumlah langkah agar kerugian tidak semakin membengkak.

Dirinya melakukan pemberian pakan agar ikan tidak makan kotorannya dan mengatur pertumbuhan ikan agar tidak terlalu cepat.

“Kita berikan pakan separuh dari biasanya,” ujar Yoyok.

Meski begitu dirinya mengeluhkan pasar yang saat ini lesu, sehingga harga ikan juga ikut jatuh. 

Jika normalnya harga ikan patin dipasaran sekitar Rp 15 ribu perkilo, saat ini harganya tinggal Rp 13 ribu per kilo, itupun pangsa pasar juga masih sepi.

“Harga Rp 13 ribu itu ongkos untuk tenaga kerja balik,” kata Yoyok.

Dirinya berharap agar kondisi ini segera berakhir sehingga petani ikan kembali bisa menjual ikannya dengan harga normal.